ANANIAH, PUTUS ASA, GHADAB DAN TAMAK
1. Ananiah
Ananiah berasal dari bahasa Arab " Ana": Aku. Sebangsa Aku atau sikap keakuan. Ananiah menurut istilah adalah sifat keakuan atau sikap mementingkan diri sendiri atau kurang memperdulikan orang lain. Ananiah disebut juga egois,
Perilaku ini harus dihindari karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan agar kita tolong menolong atar sesama manusia. Firman Allah Swt dalam QS Luqman (31) : 18 yaitu :
وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ
فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ﴾
Artinya : Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Ciri -ciri ananiah
- Selalu ingin menang dalam pembicaraan bersama teman
- Kurang menghargai pendapat orang lain walaupun benar
- Menonjolkan kemampuan dirinya di hadapan orang lain
- Tidak mau menerima saran dan kritik orang lain
Contoh Ananiah
1. Seorang pedagang berjualan di tempat yang dilarang, larangan itu tentu bertujuan supaya tidak mengganggu kepentingan umum, Tapi karena demi kepentingannya sendiri ia tidak pernah berfikir jalan itu akan di pakai oleh pengguna jalan, dan ketika diperingatkan iapun memberontah dengan alasan untuk mencari nafkah.
2. Ketika hari sudah malam dan semua penduduk sudah pada tidur, ada sekelompok pemuda masih bermain musik dengan keras, sehingga mengganggu tetangganya yang sudah tidur dan ketika di tegur sekeompok pemuda tersebut malah marah-marah.
Semua penyakit pasti mendatangkan bahaya, sifat ananiah akan mendatangkan bahaya bagi dirinya dan orang lain. Adapun bahaya/dampak yang ditimbulkan dari perilaku ananiah adalah :
- Menimbulkan kekecewaan orang lain
- Merusak hubungan persaudaraan
- Memutuskan hubungan silaturahim
- Dijauhi dalam pergaulan dan dikucilkan oleh orang lain
- Kaku dalam pergaulan, sehingga sulit mencapai ketentraman hidup
- Menimbulkan kebencian, pertengkaran, dan permusuhan
- Sulit menerima petunjuk kebenaran, karena dirinya merasa yang paling benar
- Berdosa kepada Allah Swt, karena islam melarang sifat ananiah
Cara Menghindari sifat Ananiah
- Menyadari bahwa manusia tidak dapat hidup dengan orang lain
- Menghormati kepentingan orang lain
- Menanamkan sikap rendah hati
- Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi
- Menyadari bahwa sesama muslim adalah saudara
- Tidak merasa diri selalu benar
- Mau mendengar pendapat dan nasehat orang lain ( dalam kebaikan dan takwa )
2. Putus Asa
Putus asa adalah sikap/perilaku bahwa dirinya telah gagal atau tidak akan mampu dalam meraih suatu harapan atau cita-cita, dan ia tidak mau berusaha untuk melanjutkan apa yang ia inginkan. Putus asa berarti habis harapan, tidak ada harapan lagi.
orang yang putus asa berarti kehilangan gairah dan semangat untuk mencapai sesuatu yang semula diharapkan. Putus asa biasanya diikuit dengan sikap masa bodoh, tidak mau lagi berusaha.
Islam mendidik umatnya agar tidak putus asa dari rahmat Allah sebagai firman Allah dalam QS. Yusuf (12) : 87, sebagai berikut :
وَلَا تَاْيَۡٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيَۡٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ
Artinya : Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus rahmat dari Allah, melainkan kaun yang kafir.
Ciri orang yang putus asa
- bermalas-malasan setelah mengalami kegagalan dalam suatu usaha
- tidak bersemangat untuk meneruskan usahanya yang gagal
- Tampak murung dan tidak bergairah untuk berusaha lagi
- Mudah terpancing emosinya sehingga cepat marah walaupun dengan sebab yang kecil saja
Dampak negatif putus asa
Putus asa memiliki dampak negatif bagi diri sendiri dan keluarga. Adapun dampaknya antara lain :
- Merugikan diri sendiri karena membuang waktu, energi dan potensi yang dimiliki
- Susah untuk mencapai kemajuan karena tidak berani berbuat, khawatir mengalami kegagalan lagi.
Sedangkan cara untuk menghindari diri dari putus asa adalah :
- Merenungi kegagalan yang di alami orang lain sehingga dapat memperoleh perbandingan dari pengalaman pahit orang
- Selalu yakin bahwa Allah akan memberi jalan keluar atas persoalan yang di hadapi apabila dirinya dekat dengan Allah Swt.
3. GHADAB
Ghadab berasal dari bahasa Arab غصب - يغصب- غصبا yang berarti " marah " ( perasaan tidak senang dan panas ( karena di hina, diperlakukan kurang baik ) dan sebagainya.
Ghadab itu sifat tercela, karena marah itu bersumber dari setan. Rasulullah Saw bersabda :
Artinya: “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan sungguh, setan itu dijadikan dari api, dan sungguh, api itu dapat padam dengan air. Jika seseorang kamu marah, segeralah berwudu.” (H.R. Abu Dawud)
Seseorang yang sedang marah memiliki kecenderungan tidak dapat mengontrol
dirinya.Untuk itulah sebagai orang Islam harus pandai-pandai mengendalikan diri agar tidak
sampai mudah marah. Orang yang dapat menahan amarah merupakan salah satu ciri orang
muttaqin
Allah Swt. berfirman:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ
ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]:134)
Akibat buruk dari sikap marah, antara lain:
1. Tidak dapat berfikir tenang dalam menghadapi
permasalahan.
2. Tidak dapat menyelesaikan permasalahan secara baik
berdasarkan pertimbangan pikiran sehat.
3. Jika sering terjadi, dapat menimbulkan tekanan darah
tinggi yang membahayakan kesehatan jasmani dan rohani.
4. Sikap gadab dapat menimbulkan kekecewaan atau sakit hati orang lain.
5. Dapat menimbulkan kerugian materi, jika disertai dengan perbuatan anarkis.
Oleh karena sifat gadab merupakan sifat tercela maka, kita harus berusaha
menghindarkan diri dari sifat tersebut. Sebagai orang yang beriman dan bertakwa, maka kita
harus menghindari sikap marah. Meredam kemarahan dengan kesabaran. Hati yang sabar
akan membawa seseorang untuk berpikir secara cermat dalam menghadapi suatu
permasalahan.
4. TAMAK
Secara bahasa tamak berarti rakus. Sedang menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu
berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang
mengakibatkan adanya dosa besar
Sifat ini digambarkan oleh Rasulullah Saw. seperti
orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia meminum air laut, semakin
bertambah rasa dahaganya.Maksudnya, bertambahnya harta tidak akan menghasilkan
kepuasan hidup karena keberhasilan dalam mengumpulkan harta akan menimbulkan
harapan untuk mendapatkan harta benda baru yang lebih banyak tanpa memperhitungkan
mana yang halal dan haram.
Firman Allah dalam al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ
أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ
ٱلۡخَٰسِرُونَ
Artinya: “Wahai orang beriman, janganlah kamu dilalaikan oleh (urusan) harta benda kamu dan anak-pinak kamu daripada mengingati Allah (dengan menjalankan perintahNya) dan (ingatlah), siapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun [63]:9)
Komentar
Posting Komentar